BERANI SEHAT: “Suatu kajian masalah berita miringTerapi Ikan”

Oleh:

Agus H. Tjakrawidjaja

Peneliti Puslit Biologi – LIPI

Seiring dengan merebaknya usaha Terapi Ikan di Indonesia, menyusul akhir-akhir ini pula mulai bermunculan opini miring tentang Terapi Ikan.  Beberapa opini mengatakan tentang bahayanya dan harus berhati-hati katanya  untuk Terapi Ikan karena disinyalir dapat menularkan penyakit tertentu. Sebenarnya pendapat tersebut kalau disimak secara seksama sumber opininya sendiri baru jelas jelas hanya bersifat coba-coba menduga, sayangnya pendugaannya betul-betul menduga tanpa ada analisa ilmiah yang mendasar  (hipotesa ilmiah pun bukan, apalagi hasil penelitian) untuk untuk itu anggap saja semacam “worning” (walaupun belum ada kasus riil tentang kejadian yang dianggap berbahaya tersebut & belum adanya  hasil penelitian tentang bukti dari bahaya tersebut, misalnya hasil uji klinis, dsb.). Berita inilah yang dibesar-besarkan dan dipakai alat untuk menghantam keberadaan Terapi Ikan yang tengah merebak di Indonesia oleh yang berkepentingan, seperti para pesaing Terapi lainnya. Yang cukup menghawatirkan dengan terlalu dibesar-besarkannya berita tersebut, yang kemudian diacu secara berlebihan pula oleh pihak-pihak yang tidak berlatar belakang medis, biologis, parasitologis atau patologis, bahkan ditambah-tambah beritanya. Sekedar mengingatkan opini negatip yang patut diwaspadai  adalah  pendapat dari pihak-pihak yang berkepentingan. Salah satu kebiasaan pihak yang berkepentingan adalah selalu subyektif, bahkan cenderung berupaya menyudutkannya hal-hal yang berlawanan dengan kepentingannya, tanpa dasar yang jelas, atau berpura-pura bertopengkan ilmiah padahal tidak, plintiran kata-kata seperti baru disinyalir berbahaya maka dieksposnya dengan kata-kata telah dinyatakan berbahaya;  baru mau diteliti maka dieksposnya telah diteliti, dan lain sebagainya. Hal-hal yang demikianlah sungguh dapat menyesatkan para pembaca berita tersebut, karena selain beritanya tidak sesuai dengan sumber beritanya (orginal). Berita miring tentang Terapi Ikan tersebut juga hampir dapat dipastikan  tidak mengandung kebenaran, karena jelas telah dimasuki  berbagai opini yang tidak mendasar, ditambah-tambahnya  dan bahkan diputar balikannya kata-kata dari berita aslinya, sehingga nampak sekali telah masuknya  unsur-unsur berbagai kepentingan.

Dalam zaman serba bebas berbicara dan membuat berita dengan serba mudah, maka kita justru lebih banyak ditutuntut harus berpikir kritis dan cerdas agar tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal yang kontra produtif, berita itu lebih sering mencari-cari menonjolkan sisi negatipnya saja (walaupun tidak riil adanya), agar beritanya menjadi eksis, tanpa dipikirkan dampak negatip dari berita miring tersebut, padahal kalau dicari segala sesuatu itu pasti seolah-olah ada sisi negatip dan sisi positipnya (namanya juga berita, biar menarik perhatian barangkali). Hal ini pula justru yang dikhawatirkan dampak negatipnya dari pemberitaannya sendiri akan menjadikan orang berpersepsi yang salah dan berdampak negatip bagi perkembangan Terapi Ikan di Indonesia (bukan dampak negatif Terapi Ikannya), bukan dari Terapi Ikannya, yang dikhawatirkan keseringan efek dari beritanya itulah yang lebih mempunyai pengaruh besar, ketimbang asfek-asfek positipnya dari Terapi Ikannya, dampaknya boleh jadi orang menjadi takut berterapi ikan.

Pemikiran dan tindakan arif dalam hal ini sangat diperlukan. Kita lebih baik memaknainya dengan hal-hal yang positip dan selalu berpikir positip. Namun demikian kajian-kajian obyektif masalah ini juga tidak ada jeleknya dilakukan, agar paling tidak menjadi berita yang berimbang. Hasil kajian dari berbagai tulisan yang menyatakan seolah-olah Terapi ikan dapat berbahaya dan harus hati-hati, ternyata masalah yang sebenarnya hanya terletak dari kekhawatiran orang agar bagaimana pengguna Terapi ikan tidak sampai terluka akibat prilaku ikan pada saat terapi, yang dijadikan sebagai alat terapinya, solusinya sebenarnya juga hanya satu, yakni: “cegah pengguna Terapi Ikan jangan sampai terluka oleh ikan“. Jadi sama sekali bukan berarti aktivitas Terapi Ikan harus distop atau dilarang, atau orang harus menjadi takut melakukan Terapi Ikan, sama sekali tidak, toh urusan infeksi akibat luka dan dapat menjadi penyebab menularnya penyakit,  bisa juga diakibatkan dari berbagai aktivitas lainya, sama sekali bukan berarti dari akibat aktivitas Terapi Ikan.

Unsur lain seperti media air sebagai tempat hidup ikan dan penyakit menular tidak begitu relevan dibahas dalam kajian ini, karena bukan penyebab utamanya, subyek kajian ada di aktivitas ikan yang dikhawatirkan menjadi penyebab luka, luka tersebut diklim penyebab terjangkitnya penyakit menular atau sengaja dihubungkan seolah-olah sebagai pintu masuknya berbagai penyakit. Sementara kalau media air sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan, karena tentunya kita juga telah familier dengan aktivitas harian kita, seperti untuk mandi, berenang, main di “Waterboom” atau bagian dari water park lainnya, beraktivitas di Sungai, Danau, Sawah, dsb.. Kita sudah terbiasa beraktivitas menggunakan media air dan biasanya tidak mempermasalahkannya, justru air dapat dianggap penghalang (barier) terjangkitnya suatu penyakit menular dari manusia ke manusia. Begitu juga dengan unsur penyakit menular merasa tidak terlalu relevan dibahas dalam kajian ini, karena penyakit tsb, sebenarnya dapat menular kapan dan dimana saja kita berada, bisa melalui media tertentu yang sudah teruji cocok dengan karakter penyakitnya (parasit seperti virus). Suatu pertanyaan lain: apakah betul semua penyakit menular pada manusia bisa hidup begitu saja dalam media air ?, atau dari manusia (bukan darah dingin) ke Ikan (berdarah dingin) lalu ke manusia lagi, tahukah anda bahwa virus HIV dan virus penyakit manusia yang menular lainnya umumnya diluar tubuh manusia hanya bisa hidup relatif singkat saja, seperti di udara dan air,  sedangkan Terapi Ikan dilakukan dalam air dengan medianya berupa air sebagai tempat hidup ikannya, lebih sembarangan lagi berita miring tsb. seolah-olah ikan sebagai hewan perantara yang dapat menularkan penyakit menular seperti HIV, tidak benar itu, sampai saat ini belum pernah mendengar adanya hasil penelitian bahwa ikan merupakan hewan perantara penyakit tersebut, analisanya cenderung betul-betul ngawur, tidak bisa sesederhana itu. Jangan samakan dengan jarum suntik atau kontak badan langsung. Dalam Terapi Ikan ada 2 media yang harus dilalui alur penularan virus yaitu air dan ikan, kedua media tsb betul-betul tidak memenuhi persyaratan hidup virus seperti itu (bukan termasuk media potensial).

Berita di KOMPAS  7 Nopember 2011 mengatakan: Ketua Perhimpunan Pengendalian Infeksi Indonesia (Perdalin) Jakarta Raya yang juga staf pengajar dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM Hindra Irawan Satari menyatakan tidak yakin akan laporan yang mengatakan HIV bisa ditularkan melalui ikan dan air kolam. ”Menularkan HIV tidak sesederhana itu. Menularkan HIV memerlukan kontak yang erat, jumlah virus yang banyak, media yang baik, dan daya tahan. Air kolam bukan media yang baik untuk virus HIV,” katanya, saat ditemui dalam acara Seminar Sehari Pencegahan dan Pengendalian Infeksi, di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta Senin, (7/11/2011). Hindra menambahkan, sampai saat ini, dirinya belum pernah mendengar bahwa ada ikan yang dapat membawa HIV. Selain itu, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa ikan bisa menjadi perantara transmisi HIV antar manusia ke manusia

Bagaimanakah dengan media airnya yang menggunakan filterisasi dan sterilisasi yang baik ?, bagaimanakah dengan airnya yang mengalir selama 24 jam dan airnya selalu berganti dengan air baru, serta volume air yang biasanya juga begitu banyak (air kolam/bak/akuarium) ?, bagai mana dengan Terapi Ikan yang hanya dipakai untuk private (induvidu) di rumah-rumah ?. Sayang dalam berita miring Terapi Ikan tersebut hal yang demikian tidak pernah juga dibahas. Belum lagi kalau dikatakan menular melalui ikan, itu tidak sesederhana demikian, harus tahu dahulu penyakit menular tersebut Zoonosis atau tidak, tidak semua penyakit bisa menular begitu saja, misalnya dari manusia ke hewan (ikan), dari hewan ke manusia, lebih-lebih harus melewati media antara, seperti air sebagai tempat hidup ikan, dan harus melalui ikan juga yang notabenenya mahluk aquatic, bukan terestrial seperti manusia (karakter habitat yang jauh berbeda, begitu juga parasit dan penyakitnya sendiri-sendiri, masing-masing mempunyai faktor pembatas, dan persyaratan hidup tersendiri). Sementara virus atau kuman penyakit menular pada manusia yang biasa hidup di darah manusia, berarti mahluk hidup tersebut baru bisa hidup diluar darah manusia kalau medianya bersifat relatif sama dengan karakter seperti darah manusia,  begitu juga dengan sifat, dan faktor pembatas pada darah manusia yang merupakan persyaratan hidup mutlak mahluk tersebut, harus sama dengan air dan ikan. Sampai saat ini belum ada penyakit manusia (mahluk terestrial) menular ke ikan (mahluk aquatic) dan pindah lagi menular ke manusia (mahluk terestrial), lebih-lebih penyakitnya harus transit di media air yang volume nya juga tidak sedikit berada di kolam, bak atau akuarium sebagai tempat hidup ikannya, semua kondisi tersebut sangat jauh karakternya dengan karakter darah manusia.

Berita miring tentang terapi Ikan tersebut masih lumayan kalau diposisikan secara netral dan bermaksud baik, katakan saja bahwa: kita setiap saat senantiasa harus berhati-hati dimana saja kita berada dan sedang mengadakan aktivitas apapun (tidak terkecuali dalam berterapi ikan), waspadai jangan sampai mengalami luka, karena luka merupakan pintu masuknya berbagai penyakit. Yang paling betul adalah pernyataan demikian, itulah yang sebenar-benarnya suatu peringatan yang bersifat netral, akan lebih mempunyai makna dan hikmah yang positip untuk kita semua (sama dengan “worning terhadap peranan benda tajam seperti pisau”, bisa bermanfaat bisa juga digunakan untuk melukai). Sementara bagaimana dengan Terapi Ikan yang sama sekali tidak mengakibatkan luka, apakah itu juga negatip, tentu tidak sama sekali, bukan ?. Malah sudah jelas-jelas manfaat dan khasiatnya positip. Kondisi obyektif yang ada menujukan semakin banyak yang merasakan langsung khasiat dan manfaatnya bagi para pengguna Terapi Ikan. Oleh karena itu sangat disayangkan kalau Terapi ikan tersebut terhambat perkembangannya atau bahkan terberangus gara-gara berita miring tersebut, yang pada gilirannya dapat menjadikan kontraproduktif.

Setiap membaca berita kita memang senantiasa harus terbiasa memaknai secara kritis dan berpikir ke arah positip, agar tidak kontra produktif. Suatu hal yang dianggap penting lagi sekarang adalah bagaimana kita menyikapi dan meresponnya, agar kita tidak berpikir negatip dan larut dalam berita miring tersebut, karena akan berdampak menjadi nihilisme dan kontra produktif. Lebih baik lagi “yakini saja ikan itu merupakan mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, pasti bermanfaat bagi umatnya”. Sekarang dalam aplikasinya sangat  tergantung dari kita sendiri bagaimana cara memanfaatkannya agar tidak ada efek sampingnya (tarohlah seolah olah khawatir akan ada efek sampingnya). Untuk itu berikhtiarlah  agar teknisnya menjadi berdayaguna dan aman bagi pengguna, yakni pilih Terapi Ikan yang tidak mengakibatkan luka, itu saja sudah lebih dari cukup.

Langkah preventif yang diperlukan akan kemungkinannya dampak negatip (walaupun sampai saat ini belum ada kasus), semua pihak yang terkait harus berupaya agar selama beraktivitas Terapi ikan selalu menjaga jangan sampai pengguna menjadi luka selama berterapi ikan, akibat prilaku ikan atau disebabkan oleh benda lainnya yang berada dilokasi tersebut pada saat Terapi Ikan. Untuk yang kebetulan sedang mengalami luka sebelum berterapi ikan harus betul-betul dilarang melakukan Terapi Ikan. Kita sebagai umat yang beragama, lebih baik justru memaknainya dengan pandai-pandai mensyukuri akan ciptaan Nya, yang nyata-nyata telah terbukti dirasakan manfaat dan khasiatnya oleh banyak orang. Terapi ini betul-betul merupakan fenomena murni alami (natural), tanpa perlakuan bahan-bahan buatan manusia, seperti zat kimia atau bahan-bahan berbahaya lainnya, tidak berlebihan kirannya kalau justru fenomena alam seperti inilah yang disebut “Sunattulloh“. Mari kita kembangkan lebih lanjut Terapi Ikan ini untuk menambah khasanah terapi alternatif bagi kesehatan dan juga dapat dijadikan sarana rekreasi (karena bersifat sensasional), sekaligus meningkatkan vareasi pemanfaatan sumberdaya perikanan (diversifikasi) di Negeri kita Indonesia tercinta ini. Yakini “back to nature” adalah pilihan terbaik masa kini, lebih terjamin tanpa efek samping dan yakin pula tidak akan menularkan penyakit.

Menyikapi hal tersebut di atas,  tidak ada jeleknya bagi pengguna Terapi Ikan menempuh langkah-langkah sebagai berikut:

1. Pilih jenis ikan yang secara fisik betul-betul tidak bergigi (kalau masih ragu dengan informasi pengelolanya: tangkap satu ekor, lalu raba oleh jari tangan bagian rahang mulut ikannya, bertgigi atau tidak). –> agar tidak menimbulkan luka.

2. Pastikan air tempat hidup ikannya bersih, minimal air selalu berganti terus-menerus dengan air baru selama 24 jam.–>agar terhindar dari kutu air, jamur, dsb.

3. Bagi air diam (tidak mengalir), pastikan sistem filterisasi dan sterilisasinya berkualitas baik.–> agar terhindar dari kutu air, jamur, dsb.

4. Cegah jangan sampai orang yang kebetulan sedang mengalami luka atau infeksi ikut berterapi ikan. –> agar luka yang telah ada tidak semakin menganga karena rendaman air.

5. Sediakan bahan dan alat P3K berupa plester penutup luka, obat merah, dsb. Penyedianya adalah bisa pihak pengelola, maupun pihak pengguna           Terapi Ikan sendiri. –> agar kalau ada yang memaksa terapi padahal sebelumnya sedang mengalami luka, maka lukanya akan tidak terbuka.

6. Batasi waktu terapi paling lama 30 menit. –> agar tidak kedinginan dan kulit tidak menjadi lunak/melepuh, karena akan mudah teriritasi.

Demikian hasil kajian sepintas akan tulisan yang bernada miring dengan keberadaan Terapi Ikan,  sekaligus langkah-langkah positip dan solusinya dalam menyikapi masalah tulisan Terapi Ikan tersebut. Artikel ini merupakan pencerahan bagi pihak-pihak yang masih mau berpikir logik dan obyektif. harapannya pembaca berita tidak larut begitu saja dengan berita-berita miring yang gampang mendiskriditkan dan berakibat kontraproduktif yang merugikan bagi kepentingan yang lebih nyata. Terapi Ikan pasti bermanfaat dan tidak usah lagi khawatir akan keberadaan Terapi Ikan yang sudah nyata-nyata berguna, berfaedah dan berhkasiat dirasakan oleh banyak orang. Di luar Negeri akhir-akhir ini orang-orang terkenal walaupun sudah ada berita-berita miring yang tidak jelas itu, ternyata masih tetap memanjakan kesehatannya dengan Terapi Ikan, seperti beberapa selebriti dan bintang olahraga juga menjadi pelanggannya, termasuk pemain sepak bola Manchester City Vincent Kompany, dan presenter TV kondang Amy Childs dan James Argent (itu namanya PD nya tinggi)

KESIMPULAN                                                                                                                                                                                                                                                        Berita miring tentang Terapi Ikan harus diposisikan hanya merupakan worning yang sifatnya umum bagi berbagai aktivitas manusia. Sementara sampai saat ini kegiatan Terapi Ikan belum terbukti berbahaya sama sekali untuk kesehatan Manusia. Sebaliknya justru Terapi Ikan sangat baik untuk memelihara kesehatan. (AHT).

Popularity: 42% [?]

Tidak Ada Artikel Terkait.

Leave a Comment