SEHAT: “Ikan Terapi Terbaik dan Aman tanpa efek samping” (tidak melukai dan tidak menimbulkan penyakit)

Oleh: Agus H. TjakrawidjajaIkan nilem (Osteochilus vittatus; Family: Cyprinidae) & Struktur mulut

Jenis ikan nilem (Osteochilus vittatus sinonim Osteochilus haseltii : family Cyprinidae) adalah ikan asli Indonesia (Native Species), ikan ini sangat agresif mengisap-ngisap dengan mulutnya yang tidak bergigi. Bibir mulut ikan Osteochilus hasseltii atau Osteochilus vittatus ini adalah berupa lipatan-lipatan kulit berbentuk jonjot-jonjot berumbey terdiri dari otot-otot halus (Roberts, T.R. 1989: dalam buku “The freshwater fishes of western Borneo” halaman: 48-49).

Deskripsi ikan Osteochilus vittatus sbb:
. Jenis ikan ini bukan pemakan daging (Carnivora) akan tetapi pemakan tumbuhan atau dedaunan (Herbivora). Prilakunya mempunyai kebiasaan menyentuh-nyentuh benda dilngkungannya dengan isapan mulutnya secara terus-menerus (bahasa sunda “gerenyem nilem”), kebiasaan ini dilakukan oleh ikan-ikan sewaktu masih berukuran kecil-sedang (ukuran 1- 3 inci), ikan berukuran besar tidak lagi berprilaku demikian. Jadi terbaik karena berprilaku agresif mengisap-ngisap benda disekelilingnya terlebih terhadap tubuh manusia, dan aman karena mulutnya tidak bergigi (bibir hanya berupa lipatan-lipatan kulit), anatomi mulut ikan ini telah banyak diteliti oleh para Ichthyologist dan taxonomist ikan diantaranya oleh Roberts, T. R. (1989). Untuk itu tidak usah ragu untuk berterapi ikan dengan jenis ikan nilem (Osteochilus vittatus).

Popularity: 21% [?]

Posted in Artikel by ikantera. No Comments

BERANI SEHAT: “Suatu kajian masalah berita miringTerapi Ikan”

Oleh:

Agus H. Tjakrawidjaja

Peneliti Puslit Biologi – LIPI

Seiring dengan merebaknya usaha Terapi Ikan di Indonesia, menyusul akhir-akhir ini pula mulai bermunculan opini miring tentang Terapi Ikan.  Beberapa opini mengatakan tentang bahayanya dan harus berhati-hati katanya  untuk Terapi Ikan karena disinyalir dapat menularkan penyakit tertentu. Sebenarnya pendapat tersebut kalau disimak secara seksama sumber opininya sendiri baru jelas jelas hanya bersifat coba-coba menduga, sayangnya pendugaannya betul-betul menduga tanpa ada analisa ilmiah yang mendasar  (hipotesa ilmiah pun bukan, apalagi hasil penelitian) untuk untuk itu anggap saja semacam “worning” (walaupun belum ada kasus riil tentang kejadian yang dianggap berbahaya tersebut & belum adanya  hasil penelitian tentang bukti dari bahaya tersebut, misalnya hasil uji klinis, dsb.). Berita inilah yang dibesar-besarkan dan dipakai alat untuk menghantam keberadaan Terapi Ikan yang tengah merebak di Indonesia oleh yang berkepentingan, seperti para pesaing Terapi lainnya. Yang cukup menghawatirkan dengan terlalu dibesar-besarkannya berita tersebut, yang kemudian diacu secara berlebihan pula oleh pihak-pihak yang tidak berlatar belakang medis, biologis, parasitologis atau patologis, bahkan ditambah-tambah beritanya. Sekedar mengingatkan opini negatip yang patut diwaspadai  adalah  pendapat dari pihak-pihak yang berkepentingan. Salah satu kebiasaan pihak yang berkepentingan adalah selalu subyektif, bahkan cenderung berupaya menyudutkannya hal-hal yang berlawanan dengan kepentingannya, tanpa dasar yang jelas, atau berpura-pura bertopengkan ilmiah padahal tidak, plintiran kata-kata seperti baru disinyalir berbahaya maka dieksposnya dengan kata-kata telah dinyatakan berbahaya;  baru mau diteliti maka dieksposnya telah diteliti, dan lain sebagainya. Hal-hal yang demikianlah sungguh dapat menyesatkan para pembaca berita tersebut, karena selain beritanya tidak sesuai dengan sumber beritanya (orginal). Berita miring tentang Terapi Ikan tersebut juga hampir dapat dipastikan  tidak mengandung kebenaran, karena jelas telah dimasuki  berbagai opini yang tidak mendasar, ditambah-tambahnya  dan bahkan diputar balikannya kata-kata dari berita aslinya, sehingga nampak sekali telah masuknya  unsur-unsur berbagai kepentingan.

Dalam zaman serba bebas berbicara dan membuat berita dengan serba mudah, maka kita justru lebih banyak ditutuntut harus berpikir kritis dan cerdas agar tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal yang kontra produtif, berita itu lebih sering mencari-cari menonjolkan sisi negatipnya saja (walaupun tidak riil adanya), agar beritanya menjadi eksis, tanpa dipikirkan dampak negatip dari berita miring tersebut, padahal kalau dicari segala sesuatu itu pasti seolah-olah ada sisi negatip dan sisi positipnya (namanya juga berita, biar menarik perhatian barangkali). Hal ini pula justru yang dikhawatirkan dampak negatipnya dari pemberitaannya sendiri akan menjadikan orang berpersepsi yang salah dan berdampak negatip bagi perkembangan Terapi Ikan di Indonesia (bukan dampak negatif Terapi Ikannya), bukan dari Terapi Ikannya, yang dikhawatirkan keseringan efek dari beritanya itulah yang lebih mempunyai pengaruh besar, ketimbang asfek-asfek positipnya dari Terapi Ikannya, dampaknya boleh jadi orang menjadi takut berterapi ikan.

Pemikiran dan tindakan arif dalam hal ini sangat diperlukan. Kita lebih baik memaknainya dengan hal-hal yang positip dan selalu berpikir positip. Namun demikian kajian-kajian obyektif masalah ini juga tidak ada jeleknya dilakukan, agar paling tidak menjadi berita yang berimbang. Hasil kajian dari berbagai tulisan yang menyatakan seolah-olah Terapi ikan dapat berbahaya dan harus hati-hati, ternyata masalah yang sebenarnya hanya terletak dari kekhawatiran orang agar bagaimana pengguna Terapi ikan tidak sampai terluka akibat prilaku ikan pada saat terapi, yang dijadikan sebagai alat terapinya, solusinya sebenarnya juga hanya satu, yakni: “cegah pengguna Terapi Ikan jangan sampai terluka oleh ikan“. Jadi sama sekali bukan berarti aktivitas Terapi Ikan harus distop atau dilarang, atau orang harus menjadi takut melakukan Terapi Ikan, sama sekali tidak, toh urusan infeksi akibat luka dan dapat menjadi penyebab menularnya penyakit,  bisa juga diakibatkan dari berbagai aktivitas lainya, sama sekali bukan berarti dari akibat aktivitas Terapi Ikan.

Unsur lain seperti media air sebagai tempat hidup ikan dan penyakit menular tidak begitu relevan dibahas dalam kajian ini, karena bukan penyebab utamanya, subyek kajian ada di aktivitas ikan yang dikhawatirkan menjadi penyebab luka, luka tersebut diklim penyebab terjangkitnya penyakit menular atau sengaja dihubungkan seolah-olah sebagai pintu masuknya berbagai penyakit. Sementara kalau media air sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan, karena tentunya kita juga telah familier dengan aktivitas harian kita, seperti untuk mandi, berenang, main di “Waterboom” atau bagian dari water park lainnya, beraktivitas di Sungai, Danau, Sawah, dsb.. Kita sudah terbiasa beraktivitas menggunakan media air dan biasanya tidak mempermasalahkannya, justru air dapat dianggap penghalang (barier) terjangkitnya suatu penyakit menular dari manusia ke manusia. Begitu juga dengan unsur penyakit menular merasa tidak terlalu relevan dibahas dalam kajian ini, karena penyakit tsb, sebenarnya dapat menular kapan dan dimana saja kita berada, bisa melalui media tertentu yang sudah teruji cocok dengan karakter penyakitnya (parasit seperti virus). Suatu pertanyaan lain: apakah betul semua penyakit menular pada manusia bisa hidup begitu saja dalam media air ?, atau dari manusia (bukan darah dingin) ke Ikan (berdarah dingin) lalu ke manusia lagi, tahukah anda bahwa virus HIV dan virus penyakit manusia yang menular lainnya umumnya diluar tubuh manusia hanya bisa hidup relatif singkat saja, seperti di udara dan air,  sedangkan Terapi Ikan dilakukan dalam air dengan medianya berupa air sebagai tempat hidup ikannya, lebih sembarangan lagi berita miring tsb. seolah-olah ikan sebagai hewan perantara yang dapat menularkan penyakit menular seperti HIV, tidak benar itu, sampai saat ini belum pernah mendengar adanya hasil penelitian bahwa ikan merupakan hewan perantara penyakit tersebut, analisanya cenderung betul-betul ngawur, tidak bisa sesederhana itu. Jangan samakan dengan jarum suntik atau kontak badan langsung. Dalam Terapi Ikan ada 2 media yang harus dilalui alur penularan virus yaitu air dan ikan, kedua media tsb betul-betul tidak memenuhi persyaratan hidup virus seperti itu (bukan termasuk media potensial).

Berita di KOMPAS  7 Nopember 2011 mengatakan: Ketua Perhimpunan Pengendalian Infeksi Indonesia (Perdalin) Jakarta Raya yang juga staf pengajar dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM Hindra Irawan Satari menyatakan tidak yakin akan laporan yang mengatakan HIV bisa ditularkan melalui ikan dan air kolam. ”Menularkan HIV tidak sesederhana itu. Menularkan HIV memerlukan kontak yang erat, jumlah virus yang banyak, media yang baik, dan daya tahan. Air kolam bukan media yang baik untuk virus HIV,” katanya, saat ditemui dalam acara Seminar Sehari Pencegahan dan Pengendalian Infeksi, di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta Senin, (7/11/2011). Hindra menambahkan, sampai saat ini, dirinya belum pernah mendengar bahwa ada ikan yang dapat membawa HIV. Selain itu, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa ikan bisa menjadi perantara transmisi HIV antar manusia ke manusia

Bagaimanakah dengan media airnya yang menggunakan filterisasi dan sterilisasi yang baik ?, bagaimanakah dengan airnya yang mengalir selama 24 jam dan airnya selalu berganti dengan air baru, serta volume air yang biasanya juga begitu banyak (air kolam/bak/akuarium) ?, bagai mana dengan Terapi Ikan yang hanya dipakai untuk private (induvidu) di rumah-rumah ?. Sayang dalam berita miring Terapi Ikan tersebut hal yang demikian tidak pernah juga dibahas. Belum lagi kalau dikatakan menular melalui ikan, itu tidak sesederhana demikian, harus tahu dahulu penyakit menular tersebut Zoonosis atau tidak, tidak semua penyakit bisa menular begitu saja, misalnya dari manusia ke hewan (ikan), dari hewan ke manusia, lebih-lebih harus melewati media antara, seperti air sebagai tempat hidup ikan, dan harus melalui ikan juga yang notabenenya mahluk aquatic, bukan terestrial seperti manusia (karakter habitat yang jauh berbeda, begitu juga parasit dan penyakitnya sendiri-sendiri, masing-masing mempunyai faktor pembatas, dan persyaratan hidup tersendiri). Sementara virus atau kuman penyakit menular pada manusia yang biasa hidup di darah manusia, berarti mahluk hidup tersebut baru bisa hidup diluar darah manusia kalau medianya bersifat relatif sama dengan karakter seperti darah manusia,  begitu juga dengan sifat, dan faktor pembatas pada darah manusia yang merupakan persyaratan hidup mutlak mahluk tersebut, harus sama dengan air dan ikan. Sampai saat ini belum ada penyakit manusia (mahluk terestrial) menular ke ikan (mahluk aquatic) dan pindah lagi menular ke manusia (mahluk terestrial), lebih-lebih penyakitnya harus transit di media air yang volume nya juga tidak sedikit berada di kolam, bak atau akuarium sebagai tempat hidup ikannya, semua kondisi tersebut sangat jauh karakternya dengan karakter darah manusia.

Berita miring tentang terapi Ikan tersebut masih lumayan kalau diposisikan secara netral dan bermaksud baik, katakan saja bahwa: kita setiap saat senantiasa harus berhati-hati dimana saja kita berada dan sedang mengadakan aktivitas apapun (tidak terkecuali dalam berterapi ikan), waspadai jangan sampai mengalami luka, karena luka merupakan pintu masuknya berbagai penyakit. Yang paling betul adalah pernyataan demikian, itulah yang sebenar-benarnya suatu peringatan yang bersifat netral, akan lebih mempunyai makna dan hikmah yang positip untuk kita semua (sama dengan “worning terhadap peranan benda tajam seperti pisau”, bisa bermanfaat bisa juga digunakan untuk melukai). Sementara bagaimana dengan Terapi Ikan yang sama sekali tidak mengakibatkan luka, apakah itu juga negatip, tentu tidak sama sekali, bukan ?. Malah sudah jelas-jelas manfaat dan khasiatnya positip. Kondisi obyektif yang ada menujukan semakin banyak yang merasakan langsung khasiat dan manfaatnya bagi para pengguna Terapi Ikan. Oleh karena itu sangat disayangkan kalau Terapi ikan tersebut terhambat perkembangannya atau bahkan terberangus gara-gara berita miring tersebut, yang pada gilirannya dapat menjadikan kontraproduktif.

Setiap membaca berita kita memang senantiasa harus terbiasa memaknai secara kritis dan berpikir ke arah positip, agar tidak kontra produktif. Suatu hal yang dianggap penting lagi sekarang adalah bagaimana kita menyikapi dan meresponnya, agar kita tidak berpikir negatip dan larut dalam berita miring tersebut, karena akan berdampak menjadi nihilisme dan kontra produktif. Lebih baik lagi “yakini saja ikan itu merupakan mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, pasti bermanfaat bagi umatnya”. Sekarang dalam aplikasinya sangat  tergantung dari kita sendiri bagaimana cara memanfaatkannya agar tidak ada efek sampingnya (tarohlah seolah olah khawatir akan ada efek sampingnya). Untuk itu berikhtiarlah  agar teknisnya menjadi berdayaguna dan aman bagi pengguna, yakni pilih Terapi Ikan yang tidak mengakibatkan luka, itu saja sudah lebih dari cukup.

Langkah preventif yang diperlukan akan kemungkinannya dampak negatip (walaupun sampai saat ini belum ada kasus), semua pihak yang terkait harus berupaya agar selama beraktivitas Terapi ikan selalu menjaga jangan sampai pengguna menjadi luka selama berterapi ikan, akibat prilaku ikan atau disebabkan oleh benda lainnya yang berada dilokasi tersebut pada saat Terapi Ikan. Untuk yang kebetulan sedang mengalami luka sebelum berterapi ikan harus betul-betul dilarang melakukan Terapi Ikan. Kita sebagai umat yang beragama, lebih baik justru memaknainya dengan pandai-pandai mensyukuri akan ciptaan Nya, yang nyata-nyata telah terbukti dirasakan manfaat dan khasiatnya oleh banyak orang. Terapi ini betul-betul merupakan fenomena murni alami (natural), tanpa perlakuan bahan-bahan buatan manusia, seperti zat kimia atau bahan-bahan berbahaya lainnya, tidak berlebihan kirannya kalau justru fenomena alam seperti inilah yang disebut “Sunattulloh“. Mari kita kembangkan lebih lanjut Terapi Ikan ini untuk menambah khasanah terapi alternatif bagi kesehatan dan juga dapat dijadikan sarana rekreasi (karena bersifat sensasional), sekaligus meningkatkan vareasi pemanfaatan sumberdaya perikanan (diversifikasi) di Negeri kita Indonesia tercinta ini. Yakini “back to nature” adalah pilihan terbaik masa kini, lebih terjamin tanpa efek samping dan yakin pula tidak akan menularkan penyakit.

Menyikapi hal tersebut di atas,  tidak ada jeleknya bagi pengguna Terapi Ikan menempuh langkah-langkah sebagai berikut:

1. Pilih jenis ikan yang secara fisik betul-betul tidak bergigi (kalau masih ragu dengan informasi pengelolanya: tangkap satu ekor, lalu raba oleh jari tangan bagian rahang mulut ikannya, bertgigi atau tidak). –> agar tidak menimbulkan luka.

2. Pastikan air tempat hidup ikannya bersih, minimal air selalu berganti terus-menerus dengan air baru selama 24 jam.–>agar terhindar dari kutu air, jamur, dsb.

3. Bagi air diam (tidak mengalir), pastikan sistem filterisasi dan sterilisasinya berkualitas baik.–> agar terhindar dari kutu air, jamur, dsb.

4. Cegah jangan sampai orang yang kebetulan sedang mengalami luka atau infeksi ikut berterapi ikan. –> agar luka yang telah ada tidak semakin menganga karena rendaman air.

5. Sediakan bahan dan alat P3K berupa plester penutup luka, obat merah, dsb. Penyedianya adalah bisa pihak pengelola, maupun pihak pengguna           Terapi Ikan sendiri. –> agar kalau ada yang memaksa terapi padahal sebelumnya sedang mengalami luka, maka lukanya akan tidak terbuka.

6. Batasi waktu terapi paling lama 30 menit. –> agar tidak kedinginan dan kulit tidak menjadi lunak/melepuh, karena akan mudah teriritasi.

Demikian hasil kajian sepintas akan tulisan yang bernada miring dengan keberadaan Terapi Ikan,  sekaligus langkah-langkah positip dan solusinya dalam menyikapi masalah tulisan Terapi Ikan tersebut. Artikel ini merupakan pencerahan bagi pihak-pihak yang masih mau berpikir logik dan obyektif. harapannya pembaca berita tidak larut begitu saja dengan berita-berita miring yang gampang mendiskriditkan dan berakibat kontraproduktif yang merugikan bagi kepentingan yang lebih nyata. Terapi Ikan pasti bermanfaat dan tidak usah lagi khawatir akan keberadaan Terapi Ikan yang sudah nyata-nyata berguna, berfaedah dan berhkasiat dirasakan oleh banyak orang. Di luar Negeri akhir-akhir ini orang-orang terkenal walaupun sudah ada berita-berita miring yang tidak jelas itu, ternyata masih tetap memanjakan kesehatannya dengan Terapi Ikan, seperti beberapa selebriti dan bintang olahraga juga menjadi pelanggannya, termasuk pemain sepak bola Manchester City Vincent Kompany, dan presenter TV kondang Amy Childs dan James Argent (itu namanya PD nya tinggi)

KESIMPULAN                                                                                                                                                                                                                                                        Berita miring tentang Terapi Ikan harus diposisikan hanya merupakan worning yang sifatnya umum bagi berbagai aktivitas manusia. Sementara sampai saat ini kegiatan Terapi Ikan belum terbukti berbahaya sama sekali untuk kesehatan Manusia. Sebaliknya justru Terapi Ikan sangat baik untuk memelihara kesehatan. (AHT).

Popularity: 20% [?]

INFO KESEHATAN: “Rekaman Celotehan Pengguna Terapi Ikan Kesehatan”

* Kaki dan kepalaku rasanya jadi enteng setelah terapi ikan.

* Badanku jadi enak dan segar, lain kali terapi lagi ah.

* Penyakit kulitku jadi hilang setelah 3 kali terapi ikan disini.

* Kulit pecah-pecah (rorombeheun) hilang setelah beberapa kali terapi ikan

* Kulit kusam dikakiku setelah terapi ikan jadi hilang, bahkan kulit kakiku jadi halus.

* Semula kakiku lemas, sekarang setelah terapi tidak lagi tuh.

* He …he.. rasa sumpek dipikiran jadi lumayan enak nih, habis disini bisa lepas sih, bisa

    teriak dan tertawa terbahak-bahak.

* Kalau ada orang cenberut saja tidak dapat tertawa, bawa saja ke tempat terapi ikan

    disini yah  ?,  dijamin bisa tertawa.

* Wah terapi ikan disini betul-betul mantap, kali ikannya pilihan yah ?. 

* Saya tidak takut tertular penyakit apapun selama Terapi Ikan, lebih-lebih disini jenis ikannya aman tidak mengakibatkan luka dan airnya juga mengalir terus, apa bedanya dengan kita beraktivitas di air sungai, seperti nelayan juga terus-terusan main air dan kadang serng digerumuti ikan kecil-kecil dikakinya, toh mereka sehat-sehat saja, siapa takut untuk sehat !!!

* Berita miring Terapi Ikan gak ngaruh tuh, setiap berita sudah lumrah banget dimiring-miringkan, kalau gak dimiring-miringkan gak bakalan eksis dong !, ingat saja dengan prinsip pemberitaan yang bisa eksis itu seperti cerita klasik, contohnya: tentang berita Anjing, ” kalau dieksposnya ada anjing gigit manusia itu katanya bukan berita, tapi kalau dieksposnya manusia gigit anjing itu baru berita”.  he… he….!!!. tul gak…… pasti tul, kan ???, klasik amat tuh !!!. Berita mana sih yang  gak dimiring-miringkan ?. Coba lihat soal pemberitaan jenis makanan, banyak jenis makanan esensial  bergizi tinggi yang betul-betul diperlukan tubuh manusia seperti susu, telur, daging, kacang-kacangan, dsb.,  eh.. tiba-tiba diberitakan: hati-hati kalau mengkonsumsi jenis makanan tersebut, karena berpotensi akan menimbulkan penyakit ini dan itu, pembaca bisa bingung toh..???. Mangkanya kita-kita agak-agak kritislahlah kalau baca-baca berita, jangan ditelan begitu saja, lebih-lebih kalau pembuat beritanya berkepentingan, gawat tuh, mereka akan terus mencari-cari kearah asfek negatipnya (ada-ada saja kaya gak ada kerjaan lain, lebih baik realistislah).  —————->   SUATU TESTIMONI DARI PENGGUNA TERAPI IKAN KESEHATAN DI TWM

 

Popularity: 17% [?]

Posted in berbagi cerita by ikantera. No Comments

GEMBIRA, SEHAT & AMAN: “Heboh & Terfavorit Terapi Ikan di Taman Wisata Matahari (TWM)”

Pengunjung & pengguna membludak memanfaatkan jasa Terapi Ikan di TWM


Oleh: Agus H. Tjakrawidjaja

Heboh !! kenapa bisa heboh ?. Itu pengunjung dan pengguna Terapi Ikan Kesehatan di tempat ini begitu membludak berdatangan dari berbagai plosok kota datang ke tempat ini untuk sekedar berterapi ikan di kolam Ceria, betapa tidak, setiap harinya saat ini sudah mencapai rata-rata ribuan orang datang untuk berterapi ikan, yang lebih heran lagi banyak orang datang ke wahana ini berulang kali (AHT).

Read the rest of GEMBIRA, SEHAT & AMAN: “Heboh & Terfavorit Terapi Ikan di Taman Wisata Matahari (TWM)”

Popularity: 23% [?]

Posted in Uncategorized by ikantera. No Comments

SEHAT: “Model Terapi Ikan Nilem (Osteochilus hasseltii) di Taman Wisata Matahari (TWM)”


TANPA TERLUKA !: TERAPI IKAN DI KOLAM CERIA DENGAN ISAPAN MULUT IKAN (BUKAN GIGITAN IKAN, KARENA MULUT IKANNYA TIDAK BERGIGI)

Oleh: Agus H. Tjakrawidjaja

Berjamaah Terapi Ikan Kesehatan dengan isapan-isapan mulut ikan (bukan dengan gigitan ikan, karena jenis ikannya tidak bergigi)

Akhir-akhir ini banyak bermunculan tempat-tempat rekreasi untuk sekedar hiburan, melepaskan lelah dan menghilangkan suntuk dan rasa bosan dari rutinitas kerja, sekaligus menghibur putra-putrinya, terutama dimasa liburan. Sementara berbagai pemelihara kesehatan dan pengobatan selalu terus dicari dan dicari. Apakah kedua fenomena ini dapat dipadukan bersama secara sinergis. Jawabannya teryata bisa. Perpaduan rekreasi sambil memelihara kesehatan di alam yang indah dan nyaman telah tercermin di kolam-kolam terapi ikan yang diselenggarakan di alam terbuka (outdoor). (AHT)

Read the rest of SEHAT: “Model Terapi Ikan Nilem (Osteochilus hasseltii) di Taman Wisata Matahari (TWM)”

Popularity: 34% [?]

Posted in Artikel by ikantera. 2 Comments

SEHAT & AMAN: “Jenis-Jenis Ikan Terapi” (pilihlah jenis ikan terbaik dan aman)

Oleh:
Agus H. Tjakrawidjaja
Peneliti Ikan di Pusat Penelitian Biologi – LIPI
Tulisan dalam rangka menyambut Hari Biodiversitas di tahun 2010


Pememeliharaan kesehatan dan pengobatan saat ini banyak dilakukan orang berupa upaya-upaya alternatif, bahkan sudah merupakan kebutuhan yang terus menerus dicari. Fenomena ini sangatlah wajar karena factor kesehatan dan pengobatan merupakan kebutuhan dasar yang tidak dapat ditunda-tunda dan tidak bisa disepelekan sedikitpun.

Read the rest of SEHAT & AMAN: “Jenis-Jenis Ikan Terapi” (pilihlah jenis ikan terbaik dan aman)

Popularity: 100% [?]

Posted in Artikel by ikantera. 3 Comments

GEMBIRA & SEHAT: “Posisi Berterapi Ikan di Taman Wisata Matahari”

 

Rendam badan dengan posisi terlentang

Posisi nyebur, kaki, badan & tangan diterapi

Popularity: 27% [?]

Posted in Uncategorized by ikantera. No Comments

SEHAT: “Terapi Isapan Ikan Nilem dI Taman Wisata Matahari (TWM)”

Oleh:
Agus H. Tjakrawidjaja

Kolam Ceria dan manfaatnya

Jenis ikan nilem (Oseochilus vittatus) sangat istimewa untuk Terapi, terbukti dari pendapat para pengguna terapi yang selalu mengatakan ”jenis ini lebih mantap isapan mulutnya” dibanding dengan jenis lain yang pernah mereka coba pada terapi sebelumnya. Istimewa karena jenis ikan ini punya banyak kelebihan dibanding ikan terapi lainnya yang banyak dipakai di mal-mal, spa dan hotel-hotel, kelebihan tersebut diantaranya: ikan berukuran sedang, mulunya tidak bergigi, melainkan dengan bibir yang berupa lipatan-lipatan kulit berumbai-rumbai, dengan jonjot-jonjot ototnya elastis, anatomi mulut ikan demikian sangat berguna untuk mengisap-ngisap bagian tubuh kita yang terendam air, karena sentuhan mulutnya yang mungil dan halus dengan sedotannya yang begitu mantap dan mampu menyentuh simpul-simpul syaraf tubuh kita.

Ikan ini bersifat herbivora (pemakan tumbuhan) tidak galak dan jinak bisa bersahabat dengan manusia, bisa ditebar di kolam secara masal. Jadi ikan nilem adalah jenis ikan terapi terbaik dan aman.
Menurut hasil wawancara dengan pengguna terapi ini, bahwa terapi ikan nilem (
Osteochilus vittatus) selain lebih mantap dan dasyat dibanding dengan ikan terapi lainnya, juga manfaatnya terasa langsung pada saat selesai terapi, sehingga tidak heran pengguna begitu selesai terapi biasanya akan selalu mengatakan ”enak nih kaki dan badan menjadi enteng dan segar”, begitu juga tentunya dengan bagian-bagian tubuh lainnya seperti kepala setelah diterapi akan terasa enteng dan segar.

Kondisi obeyektif yang ada memang demikian adanya, manfaat terasa langsung, pada saat diterapi pengguna juga merasa bergembira dengan tertawa-tawa, dapat bersosialisasi, bersenda gurau dengan sesama pengguna selama diterapi dan terasa rileks menjalaninya.
Disinyalir
Enzim Dithranol (Anthralin) yang dikeluarkan dari mulut ikan ini, bermanfaat selain membantu proses pengelupasan kulit mati secara alami, terapi ikan ini juga berguna untuk menghambat pertumbuhan kulit yang terlalu cepat, meningkatkan kelembaban kulit, memperlancar sirkulasi darah, mengurangi dan mengaburkan bekas luka, membantu peremajaan kulit, membuat kulit lebih halus dan bersih.

Ikan-ikan ini akan melepaskan enzim dari mulut mereka yang sekaligus membuat kulit terasa lebih lembut juga mencegah pertumbuhan kulit yang tak sehat. Kali pertama orang menyelupkan kaki ke dalam kolam berisi kumpulan ikan ini, akan memberikan sensasi menggelitik, karena sentuhan mulut-mulut ikan akan tepat mampu mengenai simpul-simpul syarap, hingga menimbulkan rasa senang yang bisa mengenyahkan stres sesaat sambil menikmati udara segar pegunungan yang dapat menenangkan pikiran. Ditambah lagi hisapan-hisapan ”Dokter. Fish” (begitu ikan-ikan ini bisa juga diberi nama demikian) ini bisa memberikan “micromassage” di kulit bagian atas.
Selain itu, isapan ikan tersebut juga untuk melepaskan kulit mati di sekitar telapak dan jari-jari kaki, serta di bagian lainya. Terapi ikan ini dipercaya oleh sebagian masyarakat dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit. Bagi mereka yang punya bekas luka di telapak kaki sangat baik, karena kulit mati yang warnanya agak menghitam itu akan lepas oleh isapan ikan (asal jangan luka baru/ atau infeksi). Lainnya terapi ikan dapat untuk merelaksasi otot dan mengendurkan urat syaraf, sehingga tidak heran manakala saatnya tidur, tidur kita betul-betul bisa dibuat nyenyak/pulas dan begitu bangun tidur badan akan terasa langsung segar.
Jenis ikan ini juga isapan mulutnya dapat menciptakan “micro pelling effect” yang berfungsi selain membersihkan sel-sel kulit mati, juga akan merangsang pertumbuhan kulit baru sehingga kulit lebih halus dan elastis. Selain memperbaharui kulit dan memperlancar peredaran darah, ikan nilem juga akan “menstimulasi titik titik akupunktur” yang akan membuat sistem syaraf jadi lebih rileks. Di Kabupaten Kuningan terapi ikan ini dipercaya oleh sebagian masyarakat dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit, sehingga setiap akhir pekan pengunjung ketempat wisata terapi ikan tersebut padat pengunjung datang dari berbagai pelosok dari luar kota dan luar pulau hanya untuk terapi ikan..

Terapi ikan atau juga “Fish Pedicure” ini lebih menyenangkan ketimbang pedikur biasa karena ikan-ikan ini mengangkat kulit-kulit mati tanpa rasa sakit. Sementara pedikur biasa akan mengikis kulit dengan alat yang jika dilakukan terlalu keras bisa mengikis kulit barunya, hingga timbul luka. Bentuk ikan yang kecil-kecil mampu menjangkau daerah-daerah di sela-sela kaki, seperti di antara jari dan daerah pinggir kuku, sehingga lebih tuntas. Fish Pedicure pun tak menggunakan obat-obatan kimia, sehingga aman untuk kulit, bahkan untuk bayi dan anak kecil sealipun. Menyegarkan dan membersihkan bagian tubuh yang diterapi, menyembuhkan pegal-linu atau rematik, dan banyak lagi manfaatnya.

Kelebihan-kelebihan dari terapi ikan ini selain manfaatnya yang begitu penting dan tentu akan berdampak signifikan akan banyaknya orang yang memerlukan atau berkepentingan, juga karena isapan ikan ini bersifat sensasional maka umumnya , membuat orang penasaran untuk mencobanya, namun setelah mencoba kebanyakan menjadi ketagihan untuk kembali diterapi, dengan berbagai alasan, mulai dari karena kesenangan sampai dengan demi memelihara kesehatan dan pengobatan (AHT: 2010).

Popularity: 30% [?]

Posted in Artikel by ikantera. 2 Comments

GEMBIRA & SEHAT: “Terapi Ikan di Kolam Ceria”


Oleh:

Agus H. Tjakrawidjaja

Anda ingin lihat orang – orang bergembira ria, coba saja pergi ke kolam terapi ikan. Kolam tersebut pantas dibilang kolam ceria, kolam tertawa, kolam bergembira-ria, atau apa sajalah istilah lain yang artinya membuat orang menjadi senang. Anda tahu kenapa suasana kolam menjadi demikian meriah dan membuat orang bergembira di kolam tersebut ? (AHT).

Read the rest of GEMBIRA & SEHAT: “Terapi Ikan di Kolam Ceria”

Popularity: 25% [?]

Posted in Artikel by ikantera. No Comments

GEMBIRA & SEHAT: “Terapi Ikan di Taman Wisata Matahari”


Inginkah Anda merasakan sensasi geli namun asyik pada kaki Anda? Jika ya maka Anda harus datang ke kolam terapi ikan taman wisata matahari. Karena disini ketika kaki Anda dicelupkan ke dalam kolam ratusan ikan tanpa dikomandani akan mengerubungi kaki Anda sambil menggigitinya. Awalnya mungkin Anda akan menjerit karena terasa sedikit miris (bahasa sundanya peureus), karena sentuhan mulut ikan tepat mengenai simpul-simpul syaraf, sehingga ada nuasa sengatan stroom kecil-kecil, tapi setelah itu muncul rasa geli dan selanjutnya asyik (AHT)>.

Read the rest of GEMBIRA & SEHAT: “Terapi Ikan di Taman Wisata Matahari”

Popularity: 32% [?]

Posted in berbagi cerita by ikantera. 3 Comments